E=wMC2 | Marketing Becomes Horizontal
Random header image... Refresh for more!

CROWD “Marketing Becomes Horizontal”: What Is E = wMC2?

Ide [E = wMC2] Marketing muncul dari presentasi saya di MarkPlus Club bulan April 2008. Dalam forum itu saya mengatakan bahwa dengan kemunculan Web 2.0, peran komunitas pelanggan dan word of mouth (baca: promoter, ambassador, evangelist, dan lain-lain.) menjadi semakin penting dalam pemasaran masa depan. Sebelumnya selama berbulan-bulan saya melakukan riset untuk melihat peran strategis dua elemen itu dalam pemasaran melalui studi literatur yang berkembang begitu pesat sejak Tim O’Reilly pertama kali memproklamirkan Web 2.0 tahun 2004. Hasilnya adalah rumus E = wMC2 tersebut.

E dalam rumus tersebut saya sebut sebagai “Energi marketing yang maha dahsyat” sedahsyat bom nuklir. Kemudian wM adalah = word of mouth (mouse) atau buzz, yaitu promosi atau pemasaran dari mulut ke mulut baik secara fisik maupun berbasis internet. Dalam rumus ini, makna wM tak hanya menyangkut gosip-gosip konsumen mengenai produk kita, tapi secara lebih luas dan fundamental adalah rekomendasi atau referal dari satu konsumen ke konsumen yang lain. Sementara C2 atau (C x C) adalah: C pertama adalah “offline customer Community”; dan C kedua adalah “online customer Community”.

Intinya, rumus itu ingin mengatakan bahwa energi marketing sedahsyat bom nuklir akan Anda dapatkan jika Anda mampu menggabung dan menyinergikan dua elemen penting pemasaran masa depan yaitu promosi dari mulut ke mulut dan komunitas yang anda bangun dan fasilitasi. Kalau Anda mampu menyebarkan buzz mengenai produk dan layanan Anda, dan buzz itu Anda ”kembangbiakkan” di dalam habitat yang namanya komunitas, maka pasti Anda akan mampu menciptakan energi marketing yang demikian dahsyat!
Untuk menterjemahkan rumus tersebut ke dataran praktis-bisnis, saya mencoba menyusun 11 Manifesto yang berisi prinsip-prinsip pemasaran yang bisa Anda pakai dan terapkan. Saya sebut prinsip-prinsp tersebut sebagai: ”The 11 Manifesto of [E = wMC2] Marketing”. Saya juga menyebutnya, “The 11 Manifesto of Customer to Customer (C2C) Marketing”. Kenapa C2C? Karena kalau Anda menerapkan rumus tersebut maka konsumen lah yang memegang peran sentral dalam proses pemasaran Anda melalui pendekatan yang ”peer to peer” atau pendekatan marketing yang bersifat horisontal. Berikut ini adalah ke-11 manifesto tersebut.

Manifesto #1: Web 2.0. Has Unleashed the Extraordinary Power of NETWORKED Customers. Internet yang sudah teragregasi menjadi menjadi ribuan bahkan jutaan komunitas umat manusia melalui situs-situs seperti Friendster, YouTube, Facebook, MySpace, Secon Life, atau Blogger memunculkan potensi luar biasa untuk membentuk komunitas konsumen yang tak pernah terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

Manifesto #2: Your Customers Are EVANGELIST. They Are Your Voluntary Sales Force. Ketika Anda memiliki komunitas pelanggan yang solid, maka Anda punya potensi besar untuk menjadikan pelanggan tersebut sebagai “evangelist” atau “advocator” yang ngomomg bagus tentang produk Anda. Mereka sekaligus menjadi selesman tertangguh Anda.

Manifesto #3: Your Core Competence Is CONNECTING Your Customers. Ketika formula E = wMC2 bisa Anda wujudkan, Anda akan sadar bahwa keunggulan kompetitif akan ditentukan oleh kemampuan Anda dalam menghubungkan satu pelanggan dengan pelanggan lain di dalam sebuah media komunitas.

Manifesto #4: Treat Your Customer as MEMBER. Find Their Collective Identity, Purpose, and Passion. Apapun bisnis Anda, satu menjadi prinsip dasar dalam menjalankan bisnia, yaitu bahwa Anda harus menganggap pelanggan adalah “anggota” komunitas yang Anda bangun.  Bedanya “pelanggan” dengan “anggota” adalah, kalau anggota maka interaksi harus berlangsng sangat intensif baik interaksi antara perusahaan ke pelanggan, atau pelanggan ke pelanggan.

Manifesto #5: Person Needs to Communicate Itself, and Express It’s Personal Aspirations. Market Become HUMAN. Kemunculan Web 2.0 tools seperti blog, tags, wikis, RSS, dig, coComment, atau internet messenger (IM) mendorong orang kini semakin mudah dan ingin mengekspresikan diri. Makanya kini semakin banyak pribadi-pribadi narsis yang ingin mengungkapkan aspirasi personalnya dengan menulis di blog, curhat dengan sesama teman di Friendster atau Yahoo Messenger, atau memajang foto-foto pribadi di Flickr. Karena kenyataan ini saya mengatakan, kalau Web 1.0 adalah “fenomena teknologi” (technology phenomenon), maka web 2.0 adalah “fenomena kemanusiaan” (human phenomenon). Kenapa? Karena web 2.0 memungkinkan kita berinteraksi, berkomunikasi, berbagi, dan mengekspresikan diri. Market become human.

Manifesto #6: FACILITATING Is Your “Reason for Being”. Kalau Anda menganggap bahwa bisnis Anda dibangun di tengah-tengah komunitas pelanggan, maka tugas pokok dan alasan keberadaan Anda adalah memfasilitasi pelanggan-pelanggan Anda.

Manifesto #7: AUTHENTICITY Is Your Lifetime Differentiator. Di tengah persaingan yang ketat saat ini, otentisitas menjadi barang yang kian langka. Namun begitu pelanggan melihat bahwa brand Anda otentik maka otentisitas tersebut akan menjadi diferensiator yang tak bakal lekang ditelan jaman. Harley-Davidson, A Mild, Starbuck, Iwan Fals atau Slank, adalah brand-brand yang otentik, sehingga mereka sustainable.

Manifesto #8: Your Brand Is a CULT. Create Ideology around It and Spread to Your Believers. Kalau Anda punya komunitas pelanggan yang solid, maka besar kemungkinan Anda mampu menciptakan “cult brand”. Komunitas pelanggan tersebut menjadi semaca “sekte” di mana brand Anda menjadi “roh”-nya.

Manifesto #9: Your Products and Services Should be CONTAGIOUS. Produk Anda haruslah punya “bakat” untuk diperbincangkan pelanggan karena sisi unik yang dimilikinya. iPhone, Anthurium, Harry Potter, YouTube, adalah segelintir merek yang punya bakat dibicarakan.

Manifesto #10: Trust Is the Real Currency. Join the Honest CONVERSATION!!! “Market is conversation”, Anda tidak bisa menolak jika para blogger memperbincangkan dan mengaduk-aduk isi perusahaan Anda. Yang bisa Anda lakukan hanya ikutan nimbrung dan berdialog secara jujur dan transparan.

Manifesto #11: Engage Your Most Passionate Customers to CO-CREATE Solutions. Pelanggan yang Anda bina dalam komunitas adalah sumber ide produk yang tak ada habisnya. Karena itu beraliansilah dengan pelanggan dalam menciptakan dan mengembangkan produk-produk Anda.*

10 comments

1 onggo { 02.25.09 at 9:27 am }

mas,aku lg baca bukunya nih. mau tanya kok di hal 181-184,ada kerancuan antara dewi sandra dan sandra dewi..dua2nya disebut tp seolah2 mereka adalah org yg sama.. hmm…perlu lbh teliti lg nih.. no hurt feeling y.. :) okay d. aku lanjut baca dulu y.. sukses buat mas..

2 onggo { 02.25.09 at 9:32 am }

mas..mau kasi input nih. saya lg baca crowd nih. di hal 181-184 ada disebutin dewi sandra dan sandra dewi bergantian,tp sbnrnya mas hanya bertujuan menceritakan ttg sandra dewi.. hmm.tim editornya perlu lbh teliti nih..:) sukses buat mas siwo y! saya mau lanjut baca lg y.. cheers

3 onggo { 02.25.09 at 10:01 am }

Mas.. aku lagi baca bukunya nih.. pengen komen dikit nih, boleh yach? di halaman 181-184 kayaknya ada kerancuan antara sandra dewi dan dewi sandra. nama keduanya disebutkan, padahal mas sepertinya hanya me-refer ke satu orang deh.. mungkin editornya kurang teliti nih… :) itu aja sih.. sukses buat mas siwo yach.. aku mau lanjut baca buku nya lagi yach… cheers…

4 yuswohady { 02.25.09 at 1:49 pm }

Iya, pas nulis lagi agak-agak mabok…. hehehehe. Harusnya Sandra Dewi bukan Dewi Sandra.

5 galih { 02.10.10 at 4:14 pm }

hmmm,,saya baru selesai membaca buku crowd..mau nanya, kalau suatu produk menerapkan web 2.0-nya terlalu terbuka dan interaktif (misalnya dg menampilkan shoutbox di web-nya),,bukankah cukup resisten masuknya koment2 dari kompetitor (bertopeng customer/believers) yang subjektif, memojokkan, dan cenderung fitnah..
contoh:belakangan ini,, kan marak tuh toko2 online,,lalu ada pelanggan fake yg melakukan koment bernada protes krena tidak puas dg toko tersebut, lalu tercemarkanlah nama tersebut…
Menurut anda, bagaimana cara tindakan pencegahan dan penanggulangannya?

contoh lainnya:
saya bisa aja mngeluarkan pendapat subyektif bernada negatif buku anda
pendapat subyektif:
“Buku anda sangat menyimpang dari teori yang ada, hendaknya kita kembali saja ke kaidah2 yg telah ada, anda terlalu membual”
n ternyata pendapat objektif saya:
“buku Ini sungguh DAHSYAT LUAR BIASA, gagasannya cenderung baru, Aplikatif, membuka cakrawala pengetahuan….dan saya menyebutnya inilah “New Benchmark Marketing” yang sangat POTENSIAL tuk dikembangkan..RECOMMENDED BOOK”….Salut,mas…

-dari seorang yang awam marketing

6 yuswohady { 02.10.10 at 9:23 pm }

Itulah lanskap web 2.o, semua serba transparan, terbuka, demokratis, siapapun bisa ngomong apapun tanpa siapapun bisa melarang. Maka disinilah pentingnya “wisdom of crowd”, penentu seseorang itu ngomong “bener atau nggak”, “gnawur atau nggak”, “jujur atau memfitnah” adalah adalah “wisdom of crowd” ini. Istilah pop nya adalah “suara rakyat kebanyakan adalah suara tuhan”. Akhirnya penentu seseorang itu “bener atau nggak”, “memfitnah atau nggak” ditentukan oleh “suara rakyat kebanyakan ini”. Itu terjadi dalam kasus Prita misalnya. “suara rakyat kebanyakan” menyatakan bahwa “Prita adalah benar adanya” dan “pengadilan kita adalah ngawur adanya”.

Artinya, sejauh kita benar, jujur, tidak memfitnah, tulus, maka kita nggak perlu takut. Karena “suara rakyat kebanyakan” pasti akan mengatakan kita benar. Inilah “Public Relation” yang sesungguh-sungguhnya. tanpa kosmetik, tanpa gincu, tanpa pupur. Saya meneybutnya: “Public Relation yang Telanjang”

7 cindy { 10.25.10 at 9:32 am }

mas…
peerusahaan yg menetapkan teori ini
prusahaan apa ya?

Di Indonesia, perusahaan yang secara strategis dan sistematis sudah melakukan pendekatan ini belum banyak, tapi secara taktikal banyak yang sudah melakukan. Di dalam buku tersebut saya sudah menguraikan banyak contoh mbak Cindy bisa baca di situ baik kasus di dalam negeri maupun perusahaan di luar negeri.

8 marketplus { 01.13.11 at 1:27 am }

mas Yuswohady, kira2 berkenan tidak untuk menjadi kontributor di majalah kami?

Majalah apa mas?

9 Augost Wiharyono { 01.24.11 at 9:56 pm }

Mas Yuswohady..Setelah saya membaca Buu CROWD anda…saya memahami definisi Marketing Horizontal di buku CROWD lebih mengarah ke Pendekatan Personal yaitu Costumer to customer dan lebih mendekatkan ke arah Komunitas …saya ingin bertanya..Persespi Marketing Horizontal yang detail menurut anda seperti Apa? Terima kasih sebelumnya…

Kira-kira seperti yang mas uraikan, memang mengarah ke komunitas karena cornerstone of horizontal marketing is community marketing. Dan munculnya media baru yaitu social media (Facebook, Twitter, blog, etc) memungkinkan konsumen bisa terkoneksi satu sama lain dan berkumpul di dalam sebuah komunitas.

10 Augost Wiharyono { 01.25.11 at 2:42 am }

Bisa Minta Penjelasan yang lebih terperinci Tentang Horizontal Marketing sesuai Pandangan Mas ga’..??? Hal Apa saja Yang harus di perhatikan Berkaitan dengan Marketing Horizontal..??

Leave a Comment